BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
|
S
|
ebagian
orang yang pernah mendengar “Teori Evolusi” atau “Darwinisme” mungkin
beranggapan bahwa konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi
biologi dan tidak berpengaruh sedikitpun dalam kehidupan sehari-hari. Anggapan
ini sangat keliru sebab teori ini lebih dari sekedar konsep biologi. Teori
evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar
manusia.
Filsafat tersebut adalah
“materialisme”, yang mengandung sejumlah pemikiran penuh kepalsuan tentang
mengapa dan bagaimana manusia muncul dimuka bumi. Materialisme mengajarkan
bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan materi adalah esensi dari segala
sesuatu, baik yang hidup maupun yang tak hidup. Berawal dari pemikiran ini, materialis
mengingkari keberadaan sang pencipta, yaitu Allah. Dengan mereduksi segala
sesuatu ke tingkat materi, Teori ini mengubah manusia menjadi makhluk yang
berorientasi kepada meteri dan berpaling dari nilai-nilai moral. Ini adalah
awal dari bencana besar yang akan menimpa hidup manusia.
Kerusakan ajaran materialisme tidak
hanya terbatas pada tingkat individu. Ajaran ini juga mengarah untuk meruntuhkan
nilai-nilai dasar suata negara dan masyarakat dan menciptakan sebuah
masyarakat tanpa jiwa dan rasa sensitif, yang hanya memperhatikan aspek materi.
Anggota masyarakat yang demikian tidak akan
pernah memilki idealisme seperti patriotisme, cinta bangsa, keadilan,
loyalitas, kejujuran, pengorbanan, kehormatan atau moral yang baik, sehingga
tatanan sosial yang dibangunnya pasti akan hancur dalam waktu yang singkat.
Karena itulah, materialisme menjadi salah sastu ancaman paling berat terhadap
nilai-nilaiyang mendasari tatanan politik dan sosial suatu bangsa.
Disisi lain Teori evolusi ialah
satu-satunya teori yang telah menyelusup ke segenap aspek ilmu pengetahuan .
Konsepnya sendiri yang mengandung implikasi bahwa dunia ini tidaklah statis
tetapi terus berubah dan bahwa spisies kita adalah produk evolusi tak terelakan
lagi telah mengubah pandangan dan pemahaman manusia terhadap alam, dan terhadap
dirinya sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Di abad yang modern ini teori evolusi sudah menyebar luas
dikalangan orang terpelajar bahkan teori ini pun telah menjadi dasar filsafat
pemikiran maka tidak heran lagi bahwa teori ini telah menjadi kurikulum
pembelajaran di sekolah-sekolah bahkan di universitas perguruan tinggi
sekalipun.
Namun tidak sedikit pula
ilmuan-ilmuan yang membantah tentang teori ini karena teori ini sangat
bertentangan dengan agama salah satu yaitu Islam didalam kitab suci Al-qur’an
hal ini sangalah dibantah
1. Bagaimanakah
Konsep Evolusi Menurut Charles Darwin ?
2. Apakah
Teori Evolusi Adalah Sebuah Kebohongan ?
3.
Apakah Seluruh Makhluk Hidup Adalah Ciptaan ?
4. Apakah
Nabi Adam Adalah Manusia Pertama di Bumi & Apa Dalil-Nya ?
1.3 Tujuan Penulisan
Ingin mengetahui sekaligus membuktikan bahwasannya hakekat makhluk
hidup di dunia ini adalah suatu ciptaan dan bukan evolusi, seperti yang
Sebagaimana diterangkan dalam teori evolusi
yaitu makhluk hidup berkembang melalui cara berevolusi. Dengan pemaham ini
sangat berbahaya karena dapat menggoncangkan iman, seperti keberadaan tuhan,
keesaannya, dan hari akhirat dan juga dapat menunjukan dasar-dasar dan
karya-karya sesat dari sistem-sistem tak bertuhan.
1.4 Kegunaan penulis
Dengan penulisan makalah ini kita dapat mengetahui konsep-konsep
teori darwin tentang evolusi serta bukti-bukti untuk memperkuat teori tersebut,
Dan dengan penulisan makalah ini kita membuktikan bahwa islam sangat
bertentangan dengan teori ini karena pada hakekatnya manusia diciptakan oleh
Allah untuk bersujud kepadanya.
Dilain kita membahas teori
ini, semoga ini bisa menjadi masukan dikalangan masyarakat luas dan kita juga
dapat mengambil kebijakan, karena pehaman ini sudah mengganggu akidah kita dalam beragama.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pembahasan Umum
Akar pemikiran evolusionis muncul sezaman dengan keyakinan dogmatis
yang berusaha keras mengingkari penciptaan. Mayoritas filsuf penganut pagan[1]
dizaman yunani kuno mempertahankan gagasan evolusi. Jika mengamati sejarah
filsafat, kita akan melihat bahwa gagasan evolusi telah menompang banyak
filsafat pagan
Akan tetapi bukan filsafat pagan
kuno ini yang telah berperan penting dalam kelahiran dan perkembangan ilmu
pengetahuan modern, melainkan keimanan kepada tuhan, Pada umumnya mereka yamg
memelopoi ilmu pengetahuan modern mempercayai keberadaannya. Seraya mempelajari
ilmu pengetahuan, mereka berusaha menyingkap rahasia jagat raya yang telah
diciptakan tuhan dan mengungkapkan hukum-hukum dan detail-detail dalam
penciptaannya. Ahli Astronomi seperti Leonardo da vinci, Corpernicus,
Keppler dan Galileo; bapak paleontologi, Cuvier, Perintis
botani dan zoologi, Linnaeus; dan Issac Newton, yang di juluki
sebagai “ilmuan terbesar yang pernah ada”, semua mempelajari ilmu pengetahuan
dengan tidak hanya menyakini keberadaan tuhan, tetapi juga bahwa keseluruhan
alam semesta adalah hasil ciptaannya.
Teori evolusi merupakan buah hasil
pemikiran meterialistis yang muncul bersamaan dengan kebangkitan
filsafat-filsafat materialistis kuno dan kemudian menyebar luas di abad ke-19.
Seperti telah disebutkan sebelum-nya, paham meterialisme berusaha menjelaskan
alam semesta melalui faktor-faktor materi. Karena menolak penciptaan, pandangan
ini menyatakan bahwa segala sesuatu, hidup ataupun tak hidup, muncul tidak
melalui penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian
mencapai kondisi teratur. Akan tetapi, akal manusia sedemikian terstruktur
sehingga mampu memahami keberadaan sebuah kehendak yang mengatur dimanapun ia
menemukan keteraturan. Filsafat materialistis, yang bertentangan dengan
karakteristik paling mendasar akal manusia ini, memunculkan “teori evolusi” di
pertengahan abad ke-19.[2]
Albert
Einstein, yang dianggap sebagai orang yang paling jenius dizaman kita,
adalah seorang ilmuan yang mempercayai tuhan dan menyatakan, “saya tidak bisa
membayangkan ada ilmuan sejati tanpa keimanan mendalam seperti itu. Ibaratnya:
ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang”.
2.2 Pembahasan Khusus
Problematika yang dialami oleh sebagian umat islam saat ini
diantaranya adalah munculnya semacam kebingungan ketika hasil penemuan sains
tampaknya bertentangan dengan Al-qur’an, lalu muncullah upaya
menginterprestasikan ayat-ayat Al-qur’an agar sesuai dengan pernyataan sains.
Penciptaan makhluk hidup oleh tuhan
(sebagai Al-kholik), dalam pandangan pada umumnya umat islam, merupakan suatu
mukjizat, karena proses yang terjadi merupakan suatu yang luar biasa, sesuatu
yang tidak bisa dilakukan oleh manusia, makhluk yang dikaruniai akal, dalam
zaman modern dan kemajuan sains dan teknologi tercanggih sekalipun, apa lagi
pada makhluk lainya atau oleh alam yang relatif “tidak berakal”. Selain itu,
disebut sebuah mukjizat, karena ketika menciptakan berbagai hal, termasuk
makhluk hidup, Allah SWT hanya cukup berfirman “Kun fa yakun”, jadi maka
jadilah. Pengertian “fa” memang oleh beberapa pandangan diartikan sebagai
melalui suatu proses yang boleh jadi memakan waktu panjang, artinya tidak mesti
terjadi seketika. Tetapi, kalaupun itu sesuatu yang terjadi dengan langsung,
bukankah maha kuasa atas segala sesuatu ? tidak terbatas atau dibatasi oleh
ruang dan waktu. Fenomena kehidupan itu sendiri merupakan suatu mukjizat,
mengingat begitu kompleksnya fenomena kehidupan bahkan yang terjadi dalam satu
sel sekalipun. Alam, manusia adalah makhluk yang tidak memiliki kemampuan untuk
menciptakan yang tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari tidak
ada menjadi ada.[3]
Walaupun manusia berasal dari
materialam dan dari kehidupan yang terdapat didalamnya, tetapi manusia berbeda
dengan makhluk lainya dengan perbedaan yang sangat besar karena adanya karunia
Allah yang diberikan kepadanya yaitu akal dan pemahaman. Itulah sebab dari
adanya penundukkan semua yang ada dialam ini untuk manusia, sebagai rahmat dan
karunia dari Allah SWT. (“Allah
telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar.
Dia juga telah menundukkan bagi kalian malam dan siang”) (Q.S. Ibrahim: 33), dalam ayat ini
menjelaskan apa yang telah Allah karuniakan kepada manusia berupa akal dan
pemahaman serta derivat (turunan) dari apa-apa yang telah Allah tundukkan bagi
manusia itu sehingga merka dapat memanfaatkannya sesuai dengan keinginan
mereka, dengan berbagai cara yang mampu mereka lakukan.
Kedudukan akal dalam Islam adalah
merupakan suatu kelebihan yang berikan Allah kepada manusia dibandingkan dengan
makhluk-makhluk nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang
dapat mempermudah urusan mereka di dunia.
2.2.1. Pengertian Tentang Evolusi
Menurut Darwin.
Evolusi adalah proses peerubahan makhluk hidup seiring dengan
berjalannya waktu, sehingga terbentuk spesies baru. Evolusi adalah pusat bagi
biologi modern dan penting bagi sains-sains lainnya. Namun, ketika diperkenalkan
pertama kalinya pada tahun 1850-an, konsep evolusi mengejutkan banyak orang
karena konsep itu bertentangan dengan pandangan tntang bagaimana kehidupan di
bumi berawal yang telah lama diterima secara luas.
A.Sejarah Singkat Teori Evolusi.
AHLI
ILMU ALAM INGGRIS
Charles Darwin (1809-1882)
mengembangkan teori evolusinya setelah berlayar mengelilingi dunia dengan kapal
HMS Beagle. Darwin menyimpan rapat-rapat gagasan itu selama
bertahun-tahun. Akhirnya, dia
menerbitkan sebuah buku yang dikenal sebagai buku “The Origin of Spesies” (Asal-Usul
Spesies) pada tahun 1859.
Darwin bersikukuh bahwa spesies
(jenis organisme) berevolusi memlalui suatu proses yang disebut dengan seleksi
alam. Darwin menyadari bahwa jumlah makhluk hidup baru dilahirkan lebuh banyak
daripada jumlah yang bertahan hidup, sehingga makhluk hidup harus berjuang
untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Dia juga menyadari bahwa individual
yang berhasil hidup, besar kemungkinannya akan memiliki lebih banyak keturunan
dari pada pesaingnya. Keturunanya mewarisi sifat-sifat unggul mereka, dan
mempunyai anak. Dari generasi ke generasi, semakin banyak individu dalam suatu
populasi akan mewariskan sifat-sifat unggulnya. Melalui proses ini,
spesies-spesies berubah dan spesies-spesies baru berevolusi.
Fosil[4]
memberikan bukti penting dalam teori evolusi, catatan-catatan fosil
menunjukan bahwa makhluk hidup sudah ada dibumi selama lebih dari 3,5 miliar
tahun. Kehidupan mungkin berawal dari samudra. Bentuk-bentuk kehidupan
sedarhana yang mirip bakteri, telah berevolusi selama bertahun-tahun menjadi
makhluk yang lebih kompleks. Selama jutaan tahun, segala jenis makhluk hidup
yang kita kenal sekarang telah berevolusi. Sementara ribuan lainnya telah
punah. Hanya sebagian kecil dari keseluruhan spesies Bumi yang masih bertahan
sampai hari ini.[5]
B. Rasisme Darwin
Salah satu aspek diri darwin yang
terpenting namun tidak banyak diketahui adalah pandangan rasisnya. Darwin
menganggap orang-orang kulit putih Eropa lebih “maju” dibandingkan ras-ras
manusia lainnya. Selain beranggapan bahwa manusia adalah makhluk mirip kera
yangtelah berevolusi Darwin juga berpendapat bahwa beberapa ras manusia
berkembang lebih maju dibandingkan ras-ras lain, dan ras-ras terbelakang ini
masih memiliki sifat kera. Dlam bukunya The Descent of Man yang
diterbitkannya setelah The Origin of Species, dengan berani ia
berkomentar tentang “perbedaan-perbedaan besar antara manusia dari beragam
ras”. Dalam bukunya tersebut, Darwin berpendapat bahwa orang-orang kulit hitam
dan orang Aborigin Australia sama dengan gorila, dan berkesimpulan bahwa mereka
lambat laun akan “disingkirkan” oleh “ras-ras beradab”. Ia berkata: “Dimasa
mendatang tidak sampai berabad-abad lagi, ras-ras manusia beradab hampir
dipastikan akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras biadab diseluruh dunia.
Pada saat yang sama, kera-kera antro-pomorfus
(menyerupai manusia).... tak diragukan lagi akan musnah. Selanjutnya jarak
antara manusia dengan padanan terdekat akan lebih lebar, karena jarak ini akan
memisahkan manusia dalam keadaan yang lebih beradab, kita dapat berharap bahkan
lebih dari Kaukasian, dengan jenis-jenis kera serendah babun, tidak seperti
sekarang yang hanya memisahkan negro atau penduduk asli Australia dengan
gorila”[6]
Pendapat-pendapat
darwin yang tidak masuk akal ini tidak hanya dijadikan teori, tetapi juga
diposisiskan sebagai “dasar ilmiah” paling penting bagi rasisme. Dengan asumsi
bahwa makhluk hidup berevolusi ketika berjuang mempertahankan hidup, Darwinisme
bahkan dimasukkan kedalam ilmu-ilmu sosial, dan dijadikan sebuah konsep yang kemudian
dinamakan “Darwinisme sosial”.
Darwinisme
sosial berpendapat bahwa ras-ras manusia berada pada tingkatan berbeda-beda
pada “tangga evolusi”, dan ras-ras Eropa adalah yang paling “maju” diantara
semua ras, sedangkan ras-ras Lin Msih memiliki ciri-ciri “kera”.
2.2.2 Evolusi Adalah Sebuah
Kebohongan
A. Kebohongan yang Terbungkus Rapih
Kaum evolusionis mendapat
keuntungan dari program “cuci otak” media. Banyak orang percaya begitu saja
pada evolusi tanpa merasa perlu bertanya “bagaimana” dan “mengapa”. Ini berarti
evolusionis dapat mengemas kebohongan-kebohongan mereka sedemikian rupa
sehingga mampu meyakinkan orang dengan mudah.
Sebagai
contoh, bahkan dalam buku evolusionis paling “ilmiah”, “transisi dari air ke
darat” yang merupakan fenomena yang konyol. Menurut teori evolusi, kehidupan
berawal di air dan hewan yang pertama berkembang adalah ikan. Teori ini
mengatakan bahwa pada suatu masa ikan-ikan ini meloncat ke darat karena suatu
alasan (acap kali, kemarau dijadikan alasan), dan ikan-ikan yang memutuskan
untuk hidup didarat kemudian memiliki kaki dan paru-paru, bukan sirip dan
insang.
Kebanyakan
buku evolusionis tidak menjawab pertanyaan “bagaimana” dalam suatu pokok
bahasan. Bahkan dalam sumber paling “ilmiah” pun, kejanggalan pernyataan mereka
ditutupi dengan kalimat seperti “peralihan dari air ke darat akhirnya terjadi”.
B. Teori Evolusi Telah Runtuh
Sejak langkah pertamanya,
teori evolusi telah gagal. Buktinya, evolusionisnya tidak mampu menjelaskan
proses pembentukan satu protein pun. Baik hukum probabilitas maupun hukum
fisika dan kimia tidak memberikan peluang sama sekali bagi pembentukan
kehidupan secara kebetulan.
Bila
satu protein saja tidak dapat terbentuk secara kebetulan, apakah masuk akal
jika jutaan protein menyatukan diri membentuk sel, lalu miliyaran sel secara
kebetulan pula menyatukan diri membentukan organ-organ hidup, lalu membentuk
ikan, kemudian ikam beralih ke darat, menjadi reptil, dan akhirnya burung?
Begitukah cara jutaan spesies dibumi terbentuk?
Meskipun
tidak masuk akal bagi anda, evolusionis benar-benar meyakini dongeng ini.
Evolusionis
lebih merupakan sebuah kepercayaan atau tepatnya keyakinan karena mereka tidak
mempunyai bukti satu pun untuk cerita mereka. Mereka tidak pernah menemukan
satupun bentuk peralihan seperti makhluk setengah ikan setengah reptil, atau
makhluk setengah reptil setengah burung. Mereka pun tidak mampu membuktikan
bahwa satu protein, atau bahkan satu molekul asam amino penyusun protein dapat
terbentuk dalam kondisi yang mereka sebut sebagai kondisi bumi purba. Bahkan
dalam laboratorium yang canggih, mereka tidak berhasil membentuk protein.[7]
Sebaliknya, melalui seluruh upaya mereka, evolusionis sendiri malah menunjukan
bahwa proses evolusi tidak dapat dan tidak pernah terjadi di bumi ini.
2.2.3 Fakta Penciptaan
Pada bagian-bagian
sebelumnya, kita telah membahas mengapa teori evolusi menyatakan bahwa
kehidupan tidak diciptakan, adalah kebohongan yang bertentangan dengan
fakta-fakta ilmiah. Ilmu pengetahuan modern telah mengungkap fakta yang sangat
jelas melalui cabang-cabang ilmunya, seperti paleontologi, biokimia dan ilmu
astronomi. Fakta ini adalah: semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah SWT.
Sebenanya,
untuk melihat fakta ini orang tidak perlu merujuk pada hasil-hasil penelitian
yang rumit dari laboratorium biokimia ataupun penggalian geologis. Tanda-tanda
kebijaksanaan yang luar biasa tampak pada setiap makhluk hidup yang kita lihat.
A. Proses Pembentukan Manusia Dalam
Al-qur’an
Allah SWT berfirman:
نَحْنُ
خَلَقْنَاقُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُوْنَ (57)
اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَمْنُوْنَ (58) ءَاَنْتُمْ
تَخْلُقُوْنَهُ اَمْ نَحْنُ الخَالِقُوْنَ
(59)
Artinya:
“Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan (57)
Adakah kamu perhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan (58) Kamukah yang
menciptakannya? Ataukah kami yang menciptakanya”[8]
Penciptaan manusia dan
aspek-aspeknya yang luar biasa itu ditegaskan di dalam banyak ayat. Beberapa
informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci sehingga mustahil bagi orang
yang hidup di abad ke-7 untuk mengetahuinya.
Beberapa di antaranya sebagainya
sebagai berikut:
Manusia
tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya
(spermazoa) sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi, janin
manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah, manusia berkembang di tiga
kawasan yang gelap didalam rahim.
Orang-orang yang hidup pada zaman
dikala Al qur’an diturunkan, pasti mengetahui bahwa bahan dasar kelahiran
berhubungan dengan mani laki-laki yang terpancar selama berhubungan. Fakta
bahwa bayi lahir sesudah jangka waktu sembilan bulan tentu saja merupakan
peristiwa yang gamblang dan tidak memerlukan penyelidikan lebih lanjut.[9]
B. Allah Menciptakan Menurut Kehendaknya
Apakah akan menjadi masalah jika skenario yang diajukan teori
evolusionis benar-benar
terjadi? Sedikitpun tidak, karena setiap tahapan yang diajukan teori
evolusioner dan berdasarkan konsep kebetulan, hanya dapat terjadi karena suatu
keajaiban. Bahkan jika kehidupan benar-benar muncul secara berangsur-angsur
melalui tahapan demikian, masing-masing tahap hanya dapat dimunculkan oleh
suatu keinginan saddar. Kejadian kebetulan bukan hanya tidak masuk akal,
melainkan juga mustahil.
Logika
serupa berlaku juga pada seluruh hipotesis yang diusulkan oleh evolusionis.
Misalnya tidak ada bukti paleontologis maupun secara pembenaran fisika, kimia,
biologi, atau logika yang membuktikan bahwa ikan beralih dari air ke darat dadn
menjadi hewan darat. Akan tetapi, jika seseorang membuat pernyataan bahwa ikan
merangkak ke darat dan berubah menjadi reptil, maka dia pun harus menerima
keberadaan pencipta yang mampu membuat apapun yang dikehendakinya dengan hanya
mengatakan “jadilah”
Kenyataan telah jelas dan terbukti. Seluruh
kehidupan merupakan karya agung yang dirancang sempurna. Ini selanjutnya
memberikan bukti lengkap bagi keberadaan pencipta, Pemilik kekuatan,
pengatahuan, ddan kecerdasanyang tak terhingga.
2.2.4 Nabi Adam Sebagai Manusia
Pertama
Nabi Adam adalah manusia yang
pertama kali diciptakan oleh nenek moyang seluruh manusia. Sebelum menciptakan
nabi Adam. Allah memberitahu kepada malaikat. Aku hendak menciptakan manusia
sebagai pengatur dimuka bumi. Malaikat berkata “ Apakah manusia yang Engkau
ciptakan untuk mengatur bumi, ya tuhan kami ? Bukankah manusia itu nantinya
akan merusak bumi dan menumpahkan darah serta saling membunuh ?”. Kemudian
Allah berfirman, “Aku lebih mengetahui apa yang kamu tidak mengetahuinya” .
Pada hari yang telah ditentukan, Allah menciptakan Nabi Adam dari segumpal
tanah liat yang kering. Kemudian Allah meniupkan roh kedalamnya. Adam pun
menggerakkan mata dan berfungsilah jantung dan paru-paru Adam. Itulah
penciptaan manusia pertama kali.[10]
Salah satu ayat yang mengisahkan tentang penciptaan
nabi Adam yaitu:
Allah berfirman :
وَإِذْ
قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيْفَةً, قَالُوْا
اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيُسْفِكُ الدِّمَاءَ, وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ
بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ, قَالَ إِنِّي اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ.
Artinya:
“ Ingatlah Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi. Mereka berkata, “Mengapa Engkau Mebgapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan
darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau? Tuhan berfirman,
“Sesungguhnya Aku mengetahui pap yang kamu tidak ketahui”.[11]
Asal-Usul
manusia menurut pandangan agama sangatlah bertentangan dengan apa yang telah
ditemukan oleh para pencetus dan pendukung evolusi. Charles Darwin sebagai
pencetus teori evolusi berpendapat bahwamakhluk hidup termasuk juga manusia,
adalah berasal dari evolusi atau perubahan-perubahan makhluk sebelumnya yang
memiliki kemampuan sederhana. Perubahan-perubahan tersebut membuat kemampuan
manusia menjadi lebih sempurna. Pendapat ini ditunjang oleh ditemukanya
beberapa ffakta Ilimah seperti fosil dari manusia purba seperti Meghanthropus dan
Pitheccanthropus diberbagai daerah.
Disisi lain, hampir semua agama didunia menentang
mendapat ini, Penentangan itu terjadi karena pemikiran meraka didasarkan pada
berita-berita dan informasi dalam kitab sucinya masing-masing. Salah satu dari
kitab suci tersebut adalah Al-qur’an. AL-qur’an
sebagai kitab suci agama Islam menyebutkan beberapa proses kejadian manusia
yang lebih rinci dan jelas.
A. 3 Kejadian dan Asal-Usul Manusia
Menurut Islam
Al-qur’an
mejelaskan beberapa tahapan dalam proses kejadian dan asal-usul manusia secara
rinci. Yaitu:
1. Kejadian dan asal-usul manusia pertama yang berarti
pula proses penciptaan Adam diawali oleh pembentukan fisik dengan membuatnya
langsung dari tanah yanh kering yang kemudian ditiupkan ruh kedalamnya sehingga
dia hidup.
Keterangan tersebut sesuai dengan
hadist riwayat Tirmidzi, dimana Nabi
SAW bersabda
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam
as dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh bagian bumi, maka anak cucu
Adam pun seprti itu, sebagian ada yang baik dan buruk, ada yang mudah (lembut)
dan kasar dan sebagainya.
2. Allah menciptakan segala sesuatu secara
berpasang-pasang. Begitupun dengan manusia, Adam yang diciptakan hendak
dipasangkan oleh Allah dengan lawan jenisnya yang diciptakan dari tulang rusuk
Adam, yaitu siti Hawa. Keterangan tersebut sesuai dengan firman Allah:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada
Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu, dan dari padanya
Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-nya kamu saling meminta satu samalain, dan (peliharalah)
hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjagadan mengawasi kamu”[12]
3. Kejadian dan asal-usul manusia ketiga terkait
dengan proses kejadian seluruh umat keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa (kecuali
Isa, AS.) proses kejadian manusia yang disebutkan dalam Al-qur’an ternyata
setelah dewasa ini dapat dipertanggung jawabkan secara medis. Dalam Al-qur’an,
asal-usul manusia secara biologi dijelaskan dalam firman Allah, yaitu:
“Dan
sesungguhnya kami telah menciptakan manusia itu dari sari pati (berasal) dari
tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang simpan) dalam tempat
kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal
darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian
kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah,
pencipta yang paling baik. “[13]
Dari
ketiga asal-usul penciptaan manusia manurut agama Islam di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa, Islam memandang manusia secara subtantif terbagi kedalam 2
hal, yaitu subtansi materi (badan) dan subtansi immateri (jiwa).[14]
3.3 Kesimpulan
Disini
kita bisa menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna,
dengan demikian Allah menciptakannya dengan memiliki akal fikiran. Manusia ada karena ia diciptakan, bukan
karena ketidaksengajan lalu
berevolusi menjadi kondisi yang sempurna.
4.4 Referensi
1.Yahya
Harun, “Keruntuhan Teori Evolusi”, Dzikra penerbit
buku-buku islami, Bandung, 2004.
2. Green
Jen , “Jejak Sejarah Sains Evolusi” , penerbit pakar raya,
bandung 2006.
3. http://al-ihtisyam.blogspot.com
diakses pada 17/11/2015. Pukul 21.44 WIB
4. https://id.m.wikipedia.org.com
diakses pada 18/11/2015 pukul 05.15 WIB
5. https://kisahasalusul.blogspot.com
diakses 18/11/2015. Pukul 06.14 WIB
6. Al-qur’an
Al-karim.
[1] Teguh
[2] HARUN YAHYA, “Keruntuhan teori Evolusi”, Dzikra penerbit buku-buku
islami, Bandung, 2004. Hal-10.
[3] https://teorievolusi.wordpress.com
diakses pada 16/11/2015, pukul 13.20 WIB.
[4] Fosil adalah sisa-sisa atau jejak hewan, tumbuhan, atau organisme
lainnya yang pernah hidup dan telah lama mati.
[5] Jen green “jejak sejarah sains EVOLUSI “ penerbit pakar raya, bandung
2006. Hal 4-5.
[6]HARUN YAHYA, “Keruntuhan teori Evolusi”, Dzikra penerbit buku-buku
islami, Bandung, 2004. Hal 12.
[7] HARUN YAHYA, “Keruntuhan teori Evolusi”, Dzikra penerbit buku-buku
islami, Bandung, 2004. Hal 145.
[8] (Qs 56 : 57-59 )
[9] http://al-ihtisyam.blogspot.com
diakses pada 17/11/2015. Pukul 21.44 WIB
[10] https://id.m.wikipedia.org.com
diakses pada 18/11/2015 pukul 05.15 WIB
[11]Q.S Al-baqarah, ayat: 30.
[12]Q.S. An-Nisa, ayat: 1.
[13] Q.S Al-Mu’minuun, ayat: 12-14.
[14] https://kisahasalusul.blogspot.com
diakses 18/11/2015. Pukul 06.14 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
bila ada masukan atau saran, silahkan tulis dikolom komentar.