Halaman

Selasa, 27 September 2016

Pluralisme menurut Pandangan Islam dan Kristen



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.     
 Apa yang disebut Pluralisme agama kini telah merayap di keseharian kita. Paham itu berseliweran dalam berita dalam berita televisi, bermacam laman internet, novel, lirik lagu, sampai promosi kebebasan agama. Tentulah kewaspadaan  dari kaum muslimin sangat diperlukan, sebab paham ini sesperti air sejuk yang menyentuh tanah kepanasan. Setiap agama (dalam anggapan mereka) dapat melafalkannya dangan melafalkan penyebutan yang tak sama. Jikalah lidah menyebutnya dengan cara yang berbeda, dengan bunyi yang tak sama, tetapi hakikat yang disebut ialah sama, kata para pengajur paham ini.
Paham ini pun telah melahirkan suatu tatananetika dan moralis baru. Apa yang disebut islami, dianggap, tidak hanya terkandung dalam Al-qur’an ataupun  hadist. Ia juga menyebar ke dalam ajaran-ajaran agama lain. Nilai kebaikan dan ajaran sebuah agama tak lagi dipandang sebagai yang memiliki hubungan yang ketat. Agama dan kebaikan justru makin longgar, tak berbatas ketat. Kebaikan, kata mereka, tidak dapat dikuasai oleh satu agama. seruan-seruan para pengusung pluralisme Agama seolah menawarkan ketenteraman jiwa, kedamaian, dan keabadian. Di tengah kecamuk pertentangan yang merajai hari, mereka mengulurkan persaudaraan universal. Dalam kebingungan manusia yang menempuh keseharian yang nyaris tanpa hal-hal batiniah, mereka menawarkan keteduhan. Namun didalamnya terdapat ajaran yang justru kabur mengenai kebenaran, keselamatan, dan yang terpenting ialah kehancuran mengenai gagasan ketuhanan.
Salah satu tantangan yang saat ini sedang dihadapi umat islam adalah gagasan bahwa: kebenaran milik bersama samua agama. Dalam setiap agama terdapat Kebenaran dan banyak jalan menuju kebenaran. Jadi, kebenaran bukan milik islam semata atau hanya milik satu agama tertentu tertentu. Pernyataan yang semacam itu dikemukakan sederet pemikir seperti Rene Guenon, Frithjof Schuon,  seyyed Hossein Nasr, Wilfred cantwell Smith, john Harwood Hicks, Paul Knitter, John B. Cobb Jr., Ananda Kentish Coomaraswamy, Raimundo Panikkar, dan lainya. Agama para penyusung pluralisme beraneka-ragam. Ini menunjukan gagasan Syirik tersebut merasuk dalam kehidupan beragam setiap kaum. Termasuk kaum Muslimin. Gagasan Syirik ini pun telah beredar dan dikembangkan di indonesia.
Munir mulkhan, misalnya, menyatakan:
Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga tuhan yaitu itu satu sendiri, terdiri banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap Agama memasuki kamar surga. Syarat memasuki surganya. Syarat memasuki surga ialah Keikhlasan, pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan, dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jaln universal surga bagi semua Agama. Dari sini kerjasama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin. Pluralisme agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
Fatwa MUI sangat diperlukan dan tepat karena Pluralisme Agama marupakan paham syirik masa kini. Lebih memperihatinkan, gagasan syirik tersebut justru digagas oleh kalangan cendikia yang memiliki latar-belakang pendidikan formal yang tinnggi.

Alasan dalam memilih judul ini, karena paham ini telah menyebar luas di indonesia. Seperti yang diatas bahwasanya paham pluralisme agama merupakan paham syirik masa kini. Dan lebih memperihatinkan, gagasan syirik tersebut justru digagas oleh kalangan cendikia yang memiliki latar-belakang pendidikan formal yang tinggi. Dan sebagian besar di sekolah-sekolah maupun di perguruan-perguruan tinggi diindonesia pun telah terjangkit dan menyebar luas di kalangan siswa ataupun mahasiswa. Dan ini sangatlah berbahaya apabila paham ini telah merasuki seluruh masyarakat indonesia apalagi negara ini terekenal dengan mayoritas muslim terbanyak.

1.2 Rumusan Masalah
      
Pluralisme Agama adalah istilah khusus dalam kajian agama-agama. Sebagai          ‘ terminologi khusus’, istilah ini tidak dapat dimaknai sembarangan, misalnya disamakan dengan istilah ‘toleransi’, saling ‘menghormati’ dan lain sebagainya
1.      Apa yang dimaksud dengan pluralisme  ?
2.      Bagaimana pandangan kristen tehadap pluralisme ?
    Bagaimana pandangan islam terhadap pluralisme ?


1.3 Tujuan Penulisan
Ingin mengetahui konsep pluralisme dan mempelajarinya lebih dalam, karena konsep ini sangatlah mempengaruhi pemikiran-pemikiran dalam agama, Ilmu pengetahuan, maupun sosial. Maka dari itu dengan mempelajarinya lebih dalam kita dapat mengetahui konsep ini dan bagaimana pencegahannya.
Tujuan kami dalam penulisan makalah ini supaya kita lebih mengetahui konsep dasar pluralisme yang di pandang dari agama kristen dan juga agama islam.

1.4 Kegunaan Penulis
 Dengan penulisan makalah ini kita dapat mengetahui hal-hal yang mengenai konsep pluralisme agama, llmu pengetahuan,dan juga sosial secara ilmiah yang di pandang dari sudut agama kristen dan agama islam, serta  menambah wawasan pengetahun  yang mana telah terjadi dikalangan masyarakat luas.
Dan dengan kita membahas konsep ini kita dapat mengembangkan program studi kita yaitu perbandingan agama karena dengan konsep pluralisme ini tidak banyak orang yang tahu tentang konsep ini dan di lain itu dengan kita membahas ini kita dapat memperkaya khazanah dalam study perbandingan agama.
Dilain kita membahas konsep ini, semoga ini bisa menjadi masukan dikalangan masyarakat luas dan kita juga dapat mengambil kebijakan, karena pehaman ini sudah mengganggu  akidah kita dalam beragama.  
 









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pembahasan Umum.
            Pemikiran Pluralsme muncul pada masa yang disebut denganmasa pencerahan (Enligthment) Eropa. Tepatnya pada abad ke-18 M, masa yang sering disebut sebagai titik permulaan bangkitnya pemikiran modern. Yaitu masa yang diwarnai dengan wacana-wacana baru pergolakan pemikiran manusia yang berorientasi pada superioritas akal (rasionalisme) dan pembebasan akal dari kungkungan-kungkungan agama. Ditengah hiruk-pikuk pergolakan pemikiran di Eropa yang timbul sebagai konskuenasi logis dari konflik-konflik yang terjadi antara gereja dan kehidupan nyata diluar gereja, muncullah suatu paham yang dikenal dengan “liberalisme”, yang komposisinya adalah kebebasan, toleransi, persamaan dan keragaman atau pluralime.
            Sebenarnya kalu ditelusuri lebih jauh dalam peta sejarah peradaban agama-agama dunia. Kecendrungan sikap beragama yang pluralistik, dengan pemahan yang dikenal sekarang, sejatinya sama sekali barang baru. Cikal-bakal pluralisme agama ini muncul di india pada akhir abad ke-15 dalam gagasan-gagasan kabir (1440-1518) dan murid, yaitu guru Nanak (1469-1538) pendiri “Sikhisme”. Hanya saja, pengaruh gagasanini belum mampu menerobos batas-batas geografis regional, sehingga hanya populer dianak benua India. Ketika arus globalisasi telah semakin menipiskan paga-pagar kultural Barat-Timur dan mulai maraknya interaksi kultural antar kebudayaan dan agama dunia, kemudian dilain pihak timbulnya kegairahan baru dalam meneliti dan mengkaji agama-agama Timur, khususnya Islam, yang disertai perkembanganya pendekatan-pendekatan baru kajian agama (scentific study of religion), mulailah gagasan pluralisme agama berkembang secara perlahan tapi pasti, dan mendapat tempat di hati para intelektual hampir secara Universal.
            Yang perlu digaris bawahi disini, gagasan pluralisme agama sebenarnya bukan dominasi pemikir barat, namun mempunyai akar yang cukup kuat dalam pemikir agama timur, khususnya dari india, sebagaimana yang muncul pada gerakan-gerakan pembaruan sosio-religius di wilayah ini. Beberapa penelitian dan sarjana barat, seperti Parrinder dan Sharpe, justru menganggap bahwa pencetus gagasan pluralisme agama adalah tokoh-tokoh dan pemikir-pemikir yang berbangsa india.
2.2 Pembahasan Khusus.

Dari jabaran maknanya saja, pluralisme telah terkandung makna relativisme dan itu diperkuat dengan pemikiran barat postmodern yang diwarnai semangat pluralisme. Ketika disandingkan dengan agama, pluralisme menjadi sebuah istilah yang disebut pluralisme agama (religious pluralism).
            Dan dapat diartikam pula bahwa pluralisme adalah suatu paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya “KEMAJEMUKAN”atau “KEANEKARAGAMAN” dalam suatu kelompok masyarakat.
            Kemajemukan yang dimaksud misalnya dilihat dari segi agama, suku, ras, adat-istiadat, dll. Segi-segi inilah yang biasanya menjadi dasar pembentukan aneka macam kelompok lebih kecil, terbatas dan khas, serta yang mencirikhaskan dan membedakan kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, dalam suatu kelompok masyarakat yang majemuk yang lebih besar atau lebih luas. Misalnya masyarakat indonesia yang majemuk, yang terdiri dari pelbagai kelompok umat yang beragama, suku, ras. Yang memiliki aneka macam budaya atau adat-istiadat.[1]
            Pluralisme Agama dalam pengertian teologi-filosofi memiliki banyak kelemahan dalam logika dan konsistensi teologi. Selain itu berdasarkan epistemologi Alkitab, kita harus menolak pandangan “Orang kristen perlu berani mengakui perkataan yesus kita harus menolak pandangan “semua agama menuju pada Allah dan semua Agama menyelamatkan”. Orang kristen perlu berani mengakui perkataan yesus “akulah jalan dan kebenaran hidup”. Tidak ada seorang pun yang datang kepada bapa, kalau tidak melaui akau.[2]
            Namun dalam Islam menurut MUI, paham Pluralisme Agama bertentangan dengan  ajaran Islam. Fatwa MUI didasarkan kepada ayat-ayat al Qur’an di antaranya;
            Bagi siapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q.S. Ali Imran: 85)
            Seperti yang dijelaskan diatas bahwa Fatwa MUI sangat diperlukan dan tepat karena Pluralisme Agama merupakan paham syirik masa kini. Lebih memperhatikan, gagasan syirik tersbut justru digagas oleh kalangan cendikia yang memiliki latar-belakang pendidikan formal yang tinggi.
            Maka didalam Islam pluralisme agama sangat dilarang.[3]








 2.2.1 Pengertian Pluralisme Agama

            Pluralisme (bahasa inggris:pluralism), terdiri dari dua kata plural (=beragam) dan isme (=paham) yang berarti beragam pemahaman, atau bermacam-macam paham, untuk itu kata ini termasuk kata yang ambigu. Berdasarkan Webster Revised Unabridge Dictionary (1913+1828)
Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua
Agama adalah sama dan karena-Nya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agama-Nya saja yang benar sedangkan yang lain-Nya salah. Pluralisme mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup secara berdampingan di surga.

            Dari berbagai kamus, kata pluralisme (Tanpa Agama) dapat diartikan sebagai pengakuan terhadap keragaman kelompok, baik yang bercorak Ras, agama, Suku, Aliran, maupun Partai, dengan dengan menjunjung tinggi aspek-aspek perbedaan yang sangat karakteristk diantara kelompok-kelompok tersebut (The Existence within society devirse groups, as in Religion, Race, or Ethnic Origin, which contribute to the Cultural matrix of the Society while Retaining their Distinative characters). Kedua dokrin yang memandang bahwa tidak ada pendapat yang benar atau semua pendapat adalah pengertian (No view is true, or that all view are Equally true). Dalam pengertian pertama pendapat pluralis, Pluralisme adalah toleransi dimana masyarakat masih berpegang teguh pada prinsip masing-masing, sedangkan dalam pengertian kedua pluralisme mangandung paham Relativisme.
            Maka sebenar-Nya, wacana pluralisme terkait dengan pemikiran barat postmodern[4]. Sebagaimana penuturan Akbar s Amad dalam bukunya “Postmodern and Islam”. Dalam Postmodernisme terhadap Pluralisme.[5]

            Dari pemaknaan pluralisme agama, dapat dipahami bahwa istilah ini mengandung doktrin yang memandang bahwa semua agama adalah sama.

2.2.2 Pluralisme Dalam Prespektif Kristen
              Orang yang percaya pada teologi pluralisme agama biasanya tidak benar-benar mendasarkan pandangannya atas dasar kitab suci agama yang dianutnya atau tidak benar-benar berteologi berdasarkan sumber utama (kitab suci). Jika kita benar-benar jujur membaca kitab suci agama-agama maka kita menemukan klaim-klaim eksklusif yang memang tidak bersifat saling melengkapi tetapi saling bertentangan. Sebagai contoh: Buddhisme tidak percaya pada kehidupan kekal (surga) sebagai tempat bersama Allah. Buddhisme percaya pada Nirwana dan Reinkarnasi. Nirwana adalah Keadaan Damai yang membahagiakan, yang merupakan kepadaman segala perpaduan yang bersyarat (Dhammapada bab XXV). Bagi Budhisme, tidak ada neraka dalam definisi ”tempat dan kondisi dimana Allah menghukum manusia”. Yang ada adalah reinkarnasi bagi mereka yang belum mampu memadamkan keinginan-keinginan duniawinya. Hal ini tentu bertentangan dengan konsep Kristen yang percaya surga dan neraka. Bahkan jika kita berkata bahwa Islam juga mempercayai surga dan neraka, tetap terdapat perbedaan konsep (Lih.Q.S.6:128; 78:31-34). Disini kita melihat bahwa pluralisme adalah konsep yang mereduksi keunikan pandangan agama masing-masing.

2.2.2.1 Pluralisme Agama Memiliki Dasar Yang Lemah
Pragmatisme yang mendasari pluralisme agama adalah sebuah cara berpikir yang    tidak tepat. Demi keharmonisan maka mengganggap semua agama benar adalah mentalitas orang yang dangkal dan penakut. Selanjutnya, relativisme kebenaran adalah sebuah pandangan yang salah. Penganut relativisme agama tampaknya sering tidak bisa membedakan antara relativisme dalam hal selera (enak/tidak enak, cantik/tidak cantik), opini (UK Petra akan semakin maju/mundur) dan sudut pandang (ekonomi, sosiologi) dengan kemutlakan kebenaran. Kebenaran itu mutlak, sedangkan selera, opini dan sudut pandang memang relatif.
     
     
2.2.2.2 Penganut Pluralisme Agama Seringkali Tidak Konsisten
                  Penganut pluralisme agama sering menuduh golongan yang percaya bahwa hanya agamanyalah yang benar (sering disebut eksklusivisme atau partikularisme dalam  teologi Kristen) sebagai fanatik, fundamentalis dan memutlakkan agamanya. Padahal dengan menuduh demikian, kaum pluralis telah menyangkali pandangannya sendiri bahwa tiap orang boleh meyakini agamanya masing-masing secara bebas. Jika seorang  pluralis anti terhadap kaum eksklusivis maka ia bukanlah pluralis yang konsisten. Dalam realita, kita menemukan banyak pluralis yang seperti itu dan memutlakkan pandangan bahwa ”semua agama benar”. Kaum pluralis seringkali terjebak dalam eksklusivisme baru yang mereka buat yaitu hanya mau menghargai kaum pluralis lainnya dan kurang menghargai kaum eksklusivis.

      2.2.2.3 Pluralisme Agama Menghasilkan Toleransi Yang Semu
                  Jika kita membangun toleransi atas dasar kepercayaan bahwa semua agama sama-sama benar, hal itu adalah toleransi yang semu. Toleransi yang sejati justru muncul sebagaimana dikatakan Frans Magnis Suseno, ”meskipun saya tidak meyakini iman-kepercayaan Anda, meskipun iman Anda bukan kebenaran bagi saya, saya sepenuhnya menerima keberadaan Anda. Saya gembira bahwa Anda ada, saya bersedia belajar dari Anda, saya bersedia bekerja sama dengan Anda.”

2.2.3 Pluralisme Dalam Prespektif Islam
2.2.3.1 Islam Mengakui Pluralitas bukan Pluralisme
            Islam mengakui adanya Pluralitas suku, kultur, dan agama sebagai sunnatullah (QS. Hud: 118-119). Namun Islam tidak mengakui pluralitas yang memandang bahwa semua agama sama. Hal itu disebabkan adanya perbedaan fundamental secara teologis yang tidak bisa di tawar. Yahudi mengakui Yahweh sebagai Tuhan Khusus untuk golongan mereka; Kristen mengimani satu Tuhan namu tiga unsur; Tuhan bapa, Tuhan anak, dan Roh kudus, atau dikenal dengan Trinitas. Sedangkan agama-agama non-semitik, seperti Hindu, Majusi, Taonisme, dan lainnya beriman kepada banyak Tuhan atau golongan yang sering di sebut politeistik.
2.2.3.2 Dampak Pluralisme dalam Islam
            Doktrin Pluralisme agama yang memandang bahwa semua agama adalah sama, valid, dan otentiknya, tentunya berimplikasi kepada proses relativitasi dan reduksionisasi agama-agama. Dasar inilah yang di jadikan pijakan oleh pluralis liberal ketika diwacanakan dalam Islam. Kemudian yang diwacanakan adalah upaya relativisasi doktrin teologi islam, dengan mendekonsruksi ayat-ayat qur’an agar sesuai dengan gagasan pluralisme agama. Hal itu berdampak kepada rekonstruksi teologis yang dilakukan oleh pluralis liberal.

2.2.3.3 Implikasinya Terhadap Islam
            Jika doktrin pluralis agama mengajarkan bahwa pada hakekatnya agama-agama itu sama, tentunya pewacanaanya sebagai prisip toleransi menui pertanyaan yang krusial, karena sejatinya toleransi merupakan sikap yang menenggang atau menghargai, membiarkan, dan membolehkan pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.
            Jika doktrin pluralisme agama menolak menolak adanya rasa ekslusivitas dalam beragama, tentunya hal ini berimplikasi kepaada rekonstruksi teologis agama yang akhirnya membawa kepada posisi yang dilematis sekaligus problematis antar pemeluk agama. Karena agama-agama sejatinya mempunyai teologi konsep ketuhanan dan teologi keterpilihan, yang darinya mengklaim keselamatan (slvation).





















BAB III
PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan
            Kondisi Islam sama sekali perbeda. Dasar-dasar aqidah Islam sudaah dirumuskan dan sudah sangat jelas, sejak awal Islam lahir, serta tidak pernah diputuskan dalam satu kongre atau konsili. Karena itu, sejak awal kelahirannya, Islam memang sudah sempurna. Konsep teologi dan ibadah dalam islam sudah selesai dirumuskan. Bahkan, sebagai agama, nama Islam pun sudah diberikan oleh Allah (Q.S. al-ma’idah 5:3). Konsep Islam tentang nabi Isa A.S. pun sudah jelas sejak awal. Bahwa, Isa A.S. adalah manusia, Rasul, utusan Allah, dan sama sekali bukan tuhan atau putra tuhan. Bahkan , sejak awal, Al-qu’an telah mengeritik keras konsepsi teologis kaum kristen tersebut.
            Dan begitu pun pluralisme, ajaran ini adalah ajaran yang mengajarkan tentang toleransi dalam beragama. Jelas ini adalah ajaran tentang kesesatan bahkan agama kristen pun menolak dengan ajaran ini dan sudah jelas ajaran islampun juga menolaknya, karena dalam kedua agama itu telah memiliki konsep ketuhanan masing-masing sepeti kristen yaitu trinitas, dan agama Islam adalah tauhid dari konsep agama itu tidak bisa disamakan.

3.2 Saran
            Dari pemaparan diatas yaitu pluralisme agama, kami penyarankan agar tetap waspada dengan pemahaman ini, sebab pemahaman ini sudah menjulur keberbagai lembaga pendidikan agama seperti sekolah-sekolah yang berbasis agama khusus nya Islam, atau pun diberbagai perguruan tinggi yaitu universitas-universitas yang ada di indonesia ini
           
            Fatwa MUI dalam larangan pemahaman ini sangat diperlukan dan tepat karena Pluralisme Agama marupakan paham syirik masa kini. Lebih memperihatikan, gagasan syirik tersebut justru digagas oleh kalangan cendikia yang memiliki latar-belakang pendidikan formal yang tinggi. Maka orang-orang yang masih awam terhadap agama lebih dimungkinkan bisa terjebak  dalam pemikiran ini, Maka dari itu fatwa MUI dalam larangan pemikiran ini sangatlah di perlukan.
Kegerahan yang timbul dimasyarakat ini yaitu pemahaman yang bahwa semua agama di dunia ini pada hakekatnya adalah sama dan akan menuju kepada tuhan yang sama. Maka inilah pemikiran yang disebut pluralisme agama, kita sebagai masyarakat indonesia harus bisa lebih waspada dalam berfikiran tentang agama karena penyesatan pada masa  kini sangatlah banyak, entah berupa pemikiran atau pun kelakuan, maka kita kita sebagai bangsa yang matoritasnya muslim harus tetap waspada dan berhati-hati dari pemahaman ini.
3.3 Penutup
            Sudah dijelaskan tentang pemahaman pluralisme agama dengan sangat rinci, maka buku ini ditulis, agar pembaca lebih bisa memahami pemikiran ini dan bahaya dari pemikiran ini jikalau sudah menyebar
            Dan juga uraian diatas bertujuan untuk meluruskan kembali pemahaman ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan alat legitimasi berkembangnya paham pluralisme ini.
            Menarik sekali komentar Imam Ibn al-‘Arabi, seperti dikutip oleh Ibn Hajar al-‘Asqallani (W. 852 H), bahwasan letak batu bata itu adalah di fondasi/ dasar rumah itu. Jika konstruksi bangunan itu tidak disempurnakan oleh batu bata tersebut, niscaya bangunan rumah itu akan rubuh. Ibn Hajar kemudian mengakhiri komentar atas hadist tersebut dengan menanyakan : “ Hadist ini membuat perumpamaan yang jelas dan dapat mudah dipahami. Ia juga menunjukan keutamaan Nabi Muhammad S.A.W di antara nabi-nabi lain dan bahwasannya Allah S.W.T telah menutup silsilah para rasul serta menyempurnakan shari’ah-ahari’ah agama dengan tampilnya Nabi Muhammad S.A.W.
            Oleh karena itu, sungguh Maha benar firman Allah yang menyatakan :
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Wallahu a’lam bi al-sawab.


Daftar Pustaka
1.  Armas Adnin “Pluralisme Agama”, INSISTS, jakarta 2013.
2. Jurnal Agama-Agama dan Pemikiran Islam “Kalimah”, Fakultas Ushuluddin ISID,              Ponorogo, 2013.
3. https://stpakambon.wordpress.com diakses pada 05/11/2015, pukul 14.44 WIB.
4. https://moefflich.wordpress.com  diakses pada 05/11/2015, pukul 08.47 WIB.


[1] https://stpakambon.wordpress.com diakses pada 05/11/2015, pukul 14.44 WIB.
[2] https://moefflich.wordpress.com  diakses pada 05/11/2015, pukul 08.47 WIB.
[3] Adnin Armas “Pluralisme Agama”, INSISTS, jakarta 2013.
[4] Sistim Pemikiran yang Anti Agama.
[5] Adnin Armas “Pluralisme Agama”, INSISTS, jakarta 2013.

Jumat, 16 September 2016

Kebohongan Teori Darwin



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
S
ebagian orang yang pernah mendengar “Teori Evolusi” atau “Darwinisme” mungkin beranggapan bahwa konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi dan tidak berpengaruh sedikitpun dalam kehidupan sehari-hari. Anggapan ini sangat keliru sebab teori ini lebih dari sekedar konsep biologi. Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia.
            Filsafat tersebut adalah “materialisme”, yang mengandung sejumlah pemikiran penuh kepalsuan tentang mengapa dan bagaimana manusia muncul dimuka bumi. Materialisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan materi adalah esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun yang tak hidup. Berawal dari pemikiran ini, materialis mengingkari keberadaan sang pencipta, yaitu Allah. Dengan mereduksi segala sesuatu ke tingkat materi, Teori ini mengubah manusia menjadi makhluk yang berorientasi kepada meteri dan berpaling dari nilai-nilai moral. Ini adalah awal dari bencana besar yang akan menimpa hidup manusia.
            Kerusakan ajaran materialisme tidak hanya terbatas pada tingkat individu. Ajaran ini juga mengarah untuk meruntuhkan nilai-nilai dasar suata negara dan masyarakat dan menciptakan sebuah masyarakat tanpa jiwa dan rasa sensitif, yang hanya memperhatikan aspek materi. Anggota masyarakat yang demikian tidak akan  pernah memilki idealisme seperti patriotisme, cinta bangsa, keadilan, loyalitas, kejujuran, pengorbanan, kehormatan atau moral yang baik, sehingga tatanan sosial yang dibangunnya pasti akan hancur dalam waktu yang singkat. Karena itulah, materialisme menjadi salah sastu ancaman paling berat terhadap nilai-nilaiyang mendasari tatanan politik dan sosial suatu bangsa.
            Disisi lain Teori evolusi ialah satu-satunya teori yang telah menyelusup ke segenap aspek ilmu pengetahuan . Konsepnya sendiri yang mengandung implikasi bahwa dunia ini tidaklah statis tetapi terus berubah dan bahwa spisies kita adalah produk evolusi tak terelakan lagi telah mengubah pandangan dan pemahaman manusia terhadap alam, dan terhadap dirinya sendiri.

1.2 Rumusan Masalah
            Di abad yang modern ini teori evolusi sudah menyebar luas dikalangan orang terpelajar bahkan teori ini pun telah menjadi dasar filsafat pemikiran maka tidak heran lagi bahwa teori ini telah menjadi kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah bahkan di universitas perguruan tinggi sekalipun.
            Namun tidak sedikit pula ilmuan-ilmuan yang membantah tentang teori ini karena teori ini sangat bertentangan dengan agama salah satu yaitu Islam didalam kitab suci Al-qur’an hal ini sangalah dibantah

1. Bagaimanakah Konsep Evolusi Menurut Charles Darwin ?
2. Apakah Teori Evolusi Adalah Sebuah Kebohongan ?
3. Apakah Seluruh Makhluk Hidup Adalah Ciptaan ?
4. Apakah Nabi Adam Adalah Manusia Pertama di Bumi & Apa Dalil-Nya ?


1.3 Tujuan Penulisan
            Ingin mengetahui sekaligus membuktikan bahwasannya hakekat makhluk hidup di dunia ini adalah suatu ciptaan dan bukan evolusi, seperti yang Sebagaimana  diterangkan dalam teori evolusi yaitu makhluk hidup berkembang melalui cara berevolusi. Dengan pemaham ini sangat berbahaya karena dapat menggoncangkan iman, seperti keberadaan tuhan, keesaannya, dan hari akhirat dan juga dapat menunjukan dasar-dasar dan karya-karya sesat dari sistem-sistem tak bertuhan.

1.4 Kegunaan penulis
            Dengan penulisan makalah ini kita dapat mengetahui konsep-konsep teori darwin tentang evolusi serta bukti-bukti untuk memperkuat teori tersebut, Dan dengan penulisan makalah ini kita membuktikan bahwa islam sangat bertentangan dengan teori ini karena pada hakekatnya manusia diciptakan oleh Allah untuk bersujud kepadanya.
 Dilain kita membahas teori ini, semoga ini bisa menjadi masukan dikalangan masyarakat luas dan kita juga dapat mengambil kebijakan, karena pehaman ini sudah mengganggu  akidah kita dalam beragama.  
 



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pembahasan Umum
            Akar pemikiran evolusionis muncul sezaman dengan keyakinan dogmatis yang berusaha keras mengingkari penciptaan. Mayoritas filsuf penganut pagan[1] dizaman yunani kuno mempertahankan gagasan evolusi. Jika mengamati sejarah filsafat, kita akan melihat bahwa gagasan evolusi telah menompang banyak filsafat pagan
            Akan tetapi bukan filsafat pagan kuno ini yang telah berperan penting dalam kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan modern, melainkan keimanan kepada tuhan, Pada umumnya mereka yamg memelopoi ilmu pengetahuan modern mempercayai keberadaannya. Seraya mempelajari ilmu pengetahuan, mereka berusaha menyingkap rahasia jagat raya yang telah diciptakan tuhan dan mengungkapkan hukum-hukum dan detail-detail dalam penciptaannya. Ahli Astronomi seperti Leonardo da vinci, Corpernicus, Keppler dan Galileo; bapak paleontologi, Cuvier, Perintis botani dan zoologi, Linnaeus; dan Issac Newton, yang di juluki sebagai “ilmuan terbesar yang pernah ada”, semua mempelajari ilmu pengetahuan dengan tidak hanya menyakini keberadaan tuhan, tetapi juga bahwa keseluruhan alam semesta adalah hasil ciptaannya.
            Teori evolusi merupakan buah hasil pemikiran meterialistis yang muncul bersamaan dengan kebangkitan filsafat-filsafat materialistis kuno dan kemudian menyebar luas di abad ke-19. Seperti telah disebutkan sebelum-nya, paham meterialisme berusaha menjelaskan alam semesta melalui faktor-faktor materi. Karena menolak penciptaan, pandangan ini menyatakan bahwa segala sesuatu, hidup ataupun tak hidup, muncul tidak melalui penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian mencapai kondisi teratur. Akan tetapi, akal manusia sedemikian terstruktur sehingga mampu memahami keberadaan sebuah kehendak yang mengatur dimanapun ia menemukan keteraturan. Filsafat materialistis, yang bertentangan dengan karakteristik paling mendasar akal manusia ini, memunculkan “teori evolusi” di pertengahan abad ke-19.[2]
            Albert Einstein, yang dianggap sebagai orang yang paling jenius dizaman kita, adalah seorang ilmuan yang mempercayai tuhan dan menyatakan, “saya tidak bisa membayangkan ada ilmuan sejati tanpa keimanan mendalam seperti itu. Ibaratnya: ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang”.


2.2 Pembahasan Khusus
            Problematika yang dialami oleh sebagian umat islam saat ini diantaranya adalah munculnya semacam kebingungan ketika hasil penemuan sains tampaknya bertentangan dengan Al-qur’an, lalu muncullah upaya menginterprestasikan ayat-ayat Al-qur’an agar sesuai dengan pernyataan sains.
            Penciptaan makhluk hidup oleh tuhan (sebagai Al-kholik), dalam pandangan pada umumnya umat islam, merupakan suatu mukjizat, karena proses yang terjadi merupakan suatu yang luar biasa, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh manusia, makhluk yang dikaruniai akal, dalam zaman modern dan kemajuan sains dan teknologi tercanggih sekalipun, apa lagi pada makhluk lainya atau oleh alam yang relatif “tidak berakal”. Selain itu, disebut sebuah mukjizat, karena ketika menciptakan berbagai hal, termasuk makhluk hidup, Allah SWT hanya cukup berfirman “Kun fa yakun”, jadi maka jadilah. Pengertian “fa” memang oleh beberapa pandangan diartikan sebagai melalui suatu proses yang boleh jadi memakan waktu panjang, artinya tidak mesti terjadi seketika. Tetapi, kalaupun itu sesuatu yang terjadi dengan langsung, bukankah maha kuasa atas segala sesuatu ? tidak terbatas atau dibatasi oleh ruang dan waktu. Fenomena kehidupan itu sendiri merupakan suatu mukjizat, mengingat begitu kompleksnya fenomena kehidupan bahkan yang terjadi dalam satu sel sekalipun. Alam, manusia adalah makhluk yang tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan yang tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada.[3]
            Walaupun manusia berasal dari materialam dan dari kehidupan yang terdapat didalamnya, tetapi manusia berbeda dengan makhluk lainya dengan perbedaan yang sangat besar karena adanya karunia Allah yang diberikan kepadanya yaitu akal dan pemahaman. Itulah sebab dari adanya penundukkan semua yang ada dialam ini untuk manusia, sebagai rahmat dan karunia dari    Allah SWT. (“Allah telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar. Dia juga telah menundukkan bagi kalian malam dan siang”)  (Q.S. Ibrahim: 33), dalam ayat ini menjelaskan apa yang telah Allah karuniakan kepada manusia berupa akal dan pemahaman serta derivat (turunan) dari apa-apa yang telah Allah tundukkan bagi manusia itu sehingga merka dapat memanfaatkannya sesuai dengan keinginan mereka, dengan berbagai cara yang mampu mereka lakukan.
            Kedudukan akal dalam Islam adalah merupakan suatu kelebihan yang berikan Allah kepada manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia.


2.2.1. Pengertian Tentang Evolusi Menurut Darwin.
            Evolusi adalah proses peerubahan makhluk hidup seiring dengan berjalannya waktu, sehingga terbentuk spesies baru. Evolusi adalah pusat bagi biologi modern dan penting bagi sains-sains lainnya. Namun, ketika diperkenalkan pertama kalinya pada tahun 1850-an, konsep evolusi mengejutkan banyak orang karena konsep itu bertentangan dengan pandangan tntang bagaimana kehidupan di bumi berawal yang telah lama diterima secara luas.

A.Sejarah Singkat Teori Evolusi.
AHLI ILMU ALAM INGGRIS
            Charles Darwin (1809-1882) mengembangkan teori evolusinya setelah berlayar mengelilingi dunia dengan kapal HMS Beagle. Darwin menyimpan rapat-rapat gagasan itu selama bertahun-tahun. Akhirnya,  dia menerbitkan sebuah buku yang dikenal sebagai buku “The Origin of Spesies” (Asal-Usul Spesies) pada tahun 1859.
            Darwin bersikukuh bahwa spesies (jenis organisme) berevolusi memlalui suatu proses yang disebut dengan seleksi alam. Darwin menyadari bahwa jumlah makhluk hidup baru dilahirkan lebuh banyak daripada jumlah yang bertahan hidup, sehingga makhluk hidup harus berjuang untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Dia juga menyadari bahwa individual yang berhasil hidup, besar kemungkinannya akan memiliki lebih banyak keturunan dari pada pesaingnya. Keturunanya mewarisi sifat-sifat unggul mereka, dan mempunyai anak. Dari generasi ke generasi, semakin banyak individu dalam suatu populasi akan mewariskan sifat-sifat unggulnya. Melalui proses ini, spesies-spesies berubah dan spesies-spesies baru berevolusi.
            Fosil[4] memberikan bukti penting dalam teori evolusi, catatan-catatan fosil menunjukan bahwa makhluk hidup sudah ada dibumi selama lebih dari 3,5 miliar tahun. Kehidupan mungkin berawal dari samudra. Bentuk-bentuk kehidupan sedarhana yang mirip bakteri, telah berevolusi selama bertahun-tahun menjadi makhluk yang lebih kompleks. Selama jutaan tahun, segala jenis makhluk hidup yang kita kenal sekarang telah berevolusi. Sementara ribuan lainnya telah punah. Hanya sebagian kecil dari keseluruhan spesies Bumi yang masih bertahan sampai hari ini.[5]
           



B. Rasisme Darwin
                Salah satu aspek diri darwin yang terpenting namun tidak banyak diketahui adalah pandangan rasisnya. Darwin menganggap orang-orang kulit putih Eropa lebih “maju” dibandingkan ras-ras manusia lainnya. Selain beranggapan bahwa manusia adalah makhluk mirip kera yangtelah berevolusi Darwin juga berpendapat bahwa beberapa ras manusia berkembang lebih maju dibandingkan ras-ras lain, dan ras-ras terbelakang ini masih memiliki sifat kera. Dlam bukunya The Descent of Man yang diterbitkannya setelah The Origin of Species, dengan berani ia berkomentar tentang “perbedaan-perbedaan besar antara manusia dari beragam ras”. Dalam bukunya tersebut, Darwin berpendapat bahwa orang-orang kulit hitam dan orang Aborigin Australia sama dengan gorila, dan berkesimpulan bahwa mereka lambat laun akan “disingkirkan” oleh “ras-ras beradab”. Ia berkata: “Dimasa mendatang tidak sampai berabad-abad lagi, ras-ras manusia beradab hampir dipastikan akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras biadab diseluruh dunia. Pada saat yang sama,                              kera-kera antro-pomorfus (menyerupai manusia).... tak diragukan lagi akan musnah. Selanjutnya jarak antara manusia dengan padanan terdekat akan lebih lebar, karena jarak ini akan memisahkan manusia dalam keadaan yang lebih beradab, kita dapat berharap bahkan lebih dari Kaukasian, dengan jenis-jenis kera serendah babun, tidak seperti sekarang yang hanya memisahkan negro atau penduduk asli Australia dengan gorila”[6]
            Pendapat-pendapat darwin yang tidak masuk akal ini tidak hanya dijadikan teori, tetapi juga diposisiskan sebagai “dasar ilmiah” paling penting bagi rasisme. Dengan asumsi bahwa makhluk hidup berevolusi ketika berjuang mempertahankan hidup, Darwinisme bahkan dimasukkan kedalam ilmu-ilmu sosial, dan dijadikan sebuah konsep yang kemudian dinamakan “Darwinisme sosial”.
            Darwinisme sosial berpendapat bahwa ras-ras manusia berada pada tingkatan berbeda-beda pada “tangga evolusi”, dan ras-ras Eropa adalah yang paling “maju” diantara semua ras, sedangkan ras-ras Lin Msih memiliki ciri-ciri “kera”.





2.2.2 Evolusi Adalah Sebuah Kebohongan
A. Kebohongan yang Terbungkus Rapih
            Kaum evolusionis mendapat keuntungan dari program “cuci otak” media. Banyak orang percaya begitu saja pada evolusi tanpa merasa perlu bertanya “bagaimana” dan “mengapa”. Ini berarti evolusionis dapat mengemas kebohongan-kebohongan mereka sedemikian rupa sehingga mampu meyakinkan orang dengan mudah.
            Sebagai contoh, bahkan dalam buku evolusionis paling “ilmiah”, “transisi dari air ke darat” yang merupakan fenomena yang konyol. Menurut teori evolusi, kehidupan berawal di air dan hewan yang pertama berkembang adalah ikan. Teori ini mengatakan bahwa pada suatu masa ikan-ikan ini meloncat ke darat karena suatu alasan (acap kali, kemarau dijadikan alasan), dan ikan-ikan yang memutuskan untuk hidup didarat kemudian memiliki kaki dan paru-paru, bukan sirip dan insang.
            Kebanyakan buku evolusionis tidak menjawab pertanyaan “bagaimana” dalam suatu pokok bahasan. Bahkan dalam sumber paling “ilmiah” pun, kejanggalan pernyataan mereka ditutupi dengan kalimat seperti “peralihan dari air ke darat akhirnya terjadi”.
B. Teori Evolusi Telah Runtuh
            Sejak langkah pertamanya, teori evolusi telah gagal. Buktinya, evolusionisnya tidak mampu menjelaskan proses pembentukan satu protein pun. Baik hukum probabilitas maupun hukum fisika dan kimia tidak memberikan peluang sama sekali bagi pembentukan kehidupan secara kebetulan.
            Bila satu protein saja tidak dapat terbentuk secara kebetulan, apakah masuk akal jika jutaan protein menyatukan diri membentuk sel, lalu miliyaran sel secara kebetulan pula menyatukan diri membentukan organ-organ hidup, lalu membentuk ikan, kemudian ikam beralih ke darat, menjadi reptil, dan akhirnya burung? Begitukah cara jutaan spesies dibumi terbentuk?
            Meskipun tidak masuk akal bagi anda, evolusionis benar-benar meyakini dongeng ini.
            Evolusionis lebih merupakan sebuah kepercayaan atau tepatnya keyakinan karena mereka tidak mempunyai bukti satu pun untuk cerita mereka. Mereka tidak pernah menemukan satupun bentuk peralihan seperti makhluk setengah ikan setengah reptil, atau makhluk setengah reptil setengah burung. Mereka pun tidak mampu membuktikan bahwa satu protein, atau bahkan satu molekul asam amino penyusun protein dapat terbentuk dalam kondisi yang mereka sebut sebagai kondisi bumi purba. Bahkan dalam laboratorium yang canggih, mereka tidak berhasil membentuk protein.[7] Sebaliknya, melalui seluruh upaya mereka, evolusionis sendiri malah menunjukan bahwa proses evolusi tidak dapat dan tidak pernah terjadi di bumi ini.
2.2.3 Fakta Penciptaan
            Pada bagian-bagian sebelumnya, kita telah membahas mengapa teori evolusi menyatakan bahwa kehidupan tidak diciptakan, adalah kebohongan yang bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah. Ilmu pengetahuan modern telah mengungkap fakta yang sangat jelas melalui cabang-cabang ilmunya, seperti paleontologi, biokimia dan ilmu astronomi. Fakta ini adalah: semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah SWT.
            Sebenanya, untuk melihat fakta ini orang tidak perlu merujuk pada hasil-hasil penelitian yang rumit dari laboratorium biokimia ataupun penggalian geologis. Tanda-tanda kebijaksanaan yang luar biasa tampak pada setiap makhluk hidup yang kita lihat.
A. Proses Pembentukan Manusia Dalam Al-qur’an
            Allah SWT berfirman:
نَحْنُ خَلَقْنَاقُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُوْنَ (57) اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَمْنُوْنَ (58) ءَاَنْتُمْ تَخْلُقُوْنَهُ اَمْ نَحْنُ الخَالِقُوْنَ (59)
Artinya: “Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan (57) Adakah kamu perhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan (58) Kamukah yang menciptakannya? Ataukah kami yang menciptakanya”[8]
            Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya yang luar biasa itu ditegaskan di dalam banyak ayat. Beberapa informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci sehingga mustahil bagi orang yang hidup di abad ke-7 untuk mengetahuinya.
            Beberapa di antaranya sebagainya sebagai berikut:
Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya (spermazoa) sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi, janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah, manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap didalam rahim.
            Orang-orang yang hidup pada zaman dikala Al qur’an diturunkan, pasti mengetahui bahwa bahan dasar kelahiran berhubungan dengan mani laki-laki yang terpancar selama berhubungan. Fakta bahwa bayi lahir sesudah jangka waktu sembilan bulan tentu saja merupakan peristiwa yang gamblang dan tidak memerlukan penyelidikan lebih lanjut.[9]
B. Allah Menciptakan Menurut Kehendaknya 
            Apakah akan menjadi masalah jika skenario yang diajukan teori evolusionis benar-benar terjadi? Sedikitpun tidak, karena setiap tahapan yang diajukan teori evolusioner dan berdasarkan konsep kebetulan, hanya dapat terjadi karena suatu keajaiban. Bahkan jika kehidupan benar-benar muncul secara berangsur-angsur melalui tahapan demikian, masing-masing tahap hanya dapat dimunculkan oleh suatu keinginan saddar. Kejadian kebetulan bukan hanya tidak masuk akal, melainkan juga mustahil.
            Logika serupa berlaku juga pada seluruh hipotesis yang diusulkan oleh evolusionis. Misalnya tidak ada bukti paleontologis maupun secara pembenaran fisika, kimia, biologi, atau logika yang membuktikan bahwa ikan beralih dari air ke darat dadn menjadi hewan darat. Akan tetapi, jika seseorang membuat pernyataan bahwa ikan merangkak ke darat dan berubah menjadi reptil, maka dia pun harus menerima keberadaan pencipta yang mampu membuat apapun yang dikehendakinya dengan hanya mengatakan “jadilah”
             Kenyataan telah jelas dan terbukti. Seluruh kehidupan merupakan karya agung yang dirancang sempurna. Ini selanjutnya memberikan bukti lengkap bagi keberadaan pencipta, Pemilik kekuatan, pengatahuan, ddan kecerdasanyang tak terhingga.
2.2.4 Nabi Adam Sebagai Manusia Pertama          
            Nabi Adam adalah manusia yang pertama kali diciptakan oleh nenek moyang seluruh manusia. Sebelum menciptakan nabi Adam. Allah memberitahu kepada malaikat. Aku hendak menciptakan manusia sebagai pengatur dimuka bumi. Malaikat berkata “ Apakah manusia yang Engkau ciptakan untuk mengatur bumi, ya tuhan kami ? Bukankah manusia itu nantinya akan merusak bumi dan menumpahkan darah serta saling membunuh ?”. Kemudian Allah berfirman, “Aku lebih mengetahui apa yang kamu tidak mengetahuinya” . Pada hari yang telah ditentukan, Allah menciptakan Nabi Adam dari segumpal tanah liat yang kering. Kemudian Allah meniupkan roh kedalamnya. Adam pun menggerakkan mata dan berfungsilah jantung dan paru-paru Adam. Itulah penciptaan manusia pertama kali.[10]
Salah satu ayat yang mengisahkan tentang penciptaan nabi Adam yaitu:


Allah berfirman :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيْفَةً, قَالُوْا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيُسْفِكُ الدِّمَاءَ, وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ, قَالَ إِنِّي اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ.
Artinya: “ Ingatlah Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku  hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, “Mengapa Engkau Mebgapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau? Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui pap yang kamu tidak ketahui”.[11]
            Asal-Usul manusia menurut pandangan agama sangatlah bertentangan dengan apa yang telah ditemukan oleh para pencetus dan pendukung evolusi. Charles Darwin sebagai pencetus teori evolusi berpendapat bahwamakhluk hidup termasuk juga manusia, adalah berasal dari evolusi atau perubahan-perubahan makhluk sebelumnya yang memiliki kemampuan sederhana. Perubahan-perubahan tersebut membuat kemampuan manusia menjadi lebih sempurna. Pendapat ini ditunjang oleh ditemukanya beberapa ffakta Ilimah seperti fosil dari manusia purba seperti Meghanthropus dan Pitheccanthropus diberbagai daerah.
Disisi lain, hampir semua agama didunia menentang mendapat ini, Penentangan itu terjadi karena pemikiran meraka didasarkan pada berita-berita dan informasi dalam kitab sucinya masing-masing. Salah satu dari kitab suci tersebut adalah   Al-qur’an. AL-qur’an sebagai kitab suci agama Islam menyebutkan beberapa proses kejadian manusia yang lebih rinci dan jelas.
A. 3 Kejadian dan Asal-Usul Manusia Menurut Islam
            Al-qur’an mejelaskan beberapa tahapan dalam proses kejadian dan asal-usul manusia secara rinci. Yaitu:
1. Kejadian dan asal-usul manusia pertama yang berarti pula proses penciptaan Adam diawali oleh pembentukan fisik dengan membuatnya langsung dari tanah yanh kering yang kemudian ditiupkan ruh kedalamnya sehingga dia hidup.
Keterangan tersebut sesuai dengan hadist riwayat Tirmidzi, dimana     Nabi SAW bersabda
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam as dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh bagian bumi, maka anak cucu Adam pun seprti itu, sebagian ada yang baik dan buruk, ada yang mudah (lembut) dan kasar dan sebagainya.
2. Allah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasang. Begitupun dengan manusia, Adam yang diciptakan hendak dipasangkan oleh Allah dengan lawan jenisnya yang diciptakan dari tulang rusuk Adam, yaitu siti Hawa. Keterangan tersebut sesuai dengan firman Allah:
 “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-nya kamu saling meminta satu samalain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjagadan mengawasi kamu”[12]
3. Kejadian dan asal-usul manusia ketiga terkait dengan proses kejadian seluruh umat keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa (kecuali Isa, AS.) proses kejadian manusia yang disebutkan dalam Al-qur’an ternyata setelah dewasa ini dapat dipertanggung jawabkan secara medis. Dalam Al-qur’an, asal-usul manusia secara biologi dijelaskan dalam firman Allah, yaitu:
            “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia itu dari sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang simpan) dalam tempat kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, pencipta yang paling baik. “[13]
            Dari ketiga asal-usul penciptaan manusia manurut agama Islam di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, Islam memandang manusia secara subtantif terbagi kedalam 2 hal, yaitu subtansi materi (badan) dan subtansi immateri (jiwa).[14]
3.3 Kesimpulan
            Disini kita bisa menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, dengan demikian Allah menciptakannya dengan memiliki akal fikiran.  Manusia ada karena ia diciptakan, bukan karena ketidaksengajan          lalu berevolusi menjadi kondisi yang sempurna.
4.4 Referensi
1.Yahya Harun, “Keruntuhan Teori Evolusi”, Dzikra penerbit buku-buku islami, Bandung, 2004.
2. Green Jen , “Jejak Sejarah Sains Evolusi” , penerbit pakar raya, bandung 2006.
3. http://al-ihtisyam.blogspot.com diakses pada 17/11/2015. Pukul 21.44 WIB
4. https://id.m.wikipedia.org.com diakses pada 18/11/2015 pukul 05.15 WIB
5. https://kisahasalusul.blogspot.com diakses 18/11/2015. Pukul 06.14 WIB
6. Al-qur’an Al-karim.


[1] Teguh
[2] HARUN YAHYA, “Keruntuhan teori Evolusi”, Dzikra penerbit buku-buku islami, Bandung, 2004. Hal-10.
[3] https://teorievolusi.wordpress.com diakses pada 16/11/2015, pukul 13.20 WIB.
[4] Fosil adalah sisa-sisa atau jejak hewan, tumbuhan, atau organisme lainnya yang pernah hidup dan telah lama mati.
[5] Jen green “jejak sejarah sains EVOLUSI “ penerbit pakar raya, bandung 2006. Hal 4-5.
[6]HARUN YAHYA, “Keruntuhan teori Evolusi”, Dzikra penerbit buku-buku islami, Bandung, 2004. Hal 12.
[7] HARUN YAHYA, “Keruntuhan teori Evolusi”, Dzikra penerbit buku-buku islami, Bandung, 2004. Hal 145.

[8] (Qs 56 : 57-59 )
[9] http://al-ihtisyam.blogspot.com diakses pada 17/11/2015. Pukul 21.44 WIB
[10] https://id.m.wikipedia.org.com diakses pada 18/11/2015 pukul 05.15 WIB
[11]Q.S Al-baqarah, ayat: 30.
[12]Q.S. An-Nisa, ayat: 1.
[13] Q.S Al-Mu’minuun, ayat: 12-14.
[14] https://kisahasalusul.blogspot.com diakses 18/11/2015. Pukul 06.14 WIB

Analisis Undang-Undang Perlindungan Konsumen - Jurnal Hukum Ekonomi Syariah

Analisis Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Pasal 8 Ayat (1) Alexander Dzulkarnaen 1 1 Jurusan Hukum Ekonomi Syari...